MHI (Malindo Hari Ini) 10/6/2008

Indonesia:

Pemerintah Indonesia, akhirnya, semalam mengumumkan Surat Keputusan Bersama (SKP) 3 Menteri pasal Ahmadiyah. Malam itu juga Panglima Laskar Pembela Islam, Munarman, menyerahkan diri kepada polisi. Pemerintah sendiri sepertinya hanya ingin bermain ‘aman’.

>>>Apakah ini solusi yang diinginkan oleh semua pihak? Apakah dengan ini kekerasan oleh siapapun, juga oleh FPI dan kelompok Islam garis keras lainnya, akan berhenti? Apakah dengan bermain ‘aman’ SBY-JK pantas dipilih lagi di Pemilihan Presiden secara langsung 2009?

Malaysia:

Kerajaan, akhirnya, mengekor langkah Indonesia menaikkan harga minyak. Malah, petrol, harganya naik sehingga lebih dari 40%. Bezanya, meskipun di Malaysia ramai pula rakyat yang bising, tapi tak ada aksi tunjuk perasaan serupa di Indonesia.

>>>Dari segi harga minyak kita serumpun, pasal tunjuk perasaan beza kepentingan (atau keberanian?)

Advertisements

Indonesia keluar dari OPEC

Tiga tahun lepas sebenarnya Indonesia telah pun memaklumkan niatnya untuk keluar dari OPEC. Malah sangat mungkin niatan itu sebenarnya sudah ada sejak lama. Tetapi cadangan itu baru akan wujud di penghujung tahun ini.

Bagaimana pun kepastian bahawa Indonesia akan keluar dari pertubuhan negara-negara pengekspor minyak itu telah pun dimaklumkan oleh Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Purnomo Yusgiantoro. “Meskipun kita sudah bayar iuran untuk tahun ini, sudah diputuskan bahawa kita keluar dari OPEC”, kata Purnomo. Malah semalam, tak kurang dari Wakil Presiden, Jusuf Kalla, pun menguatkan keputusan pemerintah itu.

Apa yang terjadi? Indonesia pernah berperan sangat penting dalam pertubuhan negara-negara pengekspor minyak itu, malah beberapa tahun Menteri Energi di masa Presiden Suharto, Soebroto, menjadi pimpinan pertubuhan ini. Sebagai salah satu negara yang kaya sumber minyak, Indonensia bergabung penjadi ahli OPEC pada tahun 1969 (data KOMPAS 1962). Ketika itu produksi minyak Indonesia seputar 1,6 juta barrel dalam satu hari, sementara keperluan minyak untuk dalam negara hanya seputar 1 juta barrel per hari.

Rupanya membubungnya harga minyak dunia, yang juga menyulitkan Indonesia adalah hal utama yang menjadi alasan Indonesia keluar dari OPEC. Produksi minyak mentah Indonesia terus merosot, sementara konsumsi terus bertambah mengekor bertamah ramainya rakyat, bertambah banyaknya kereta dan motosikal, dan keperluan energi dan elektrik yang besar.

Sejak 2003, Indonesia telah menjadi negara net oil importir minyak, bukan lagi negara pengekspor minyak. Jadi sudah sepatutnya Indonesia keluar dari OPEC.

Setakat ini, Indonesia hanya berada pada peringkat ke 11 dari 13 negara ahli OPEC. Pertubuhan ini dianggarkan memproduksi 28 juta barrel minyak per hari bagi dunia, sementara Indonesia hanya mampu menyumbang 846.000 barrel minyak mentah per hari.

Dengan situasi serupa ini, ketika harga minyak dunia membubung tinggi hingga lebih dari 130 dollar per barrel, Indonesia justeru terjejas dalam kegawatan.