MHI (Malindo Hari Ini) 10/6/2008

Indonesia:

Pemerintah Indonesia, akhirnya, semalam mengumumkan Surat Keputusan Bersama (SKP) 3 Menteri pasal Ahmadiyah. Malam itu juga Panglima Laskar Pembela Islam, Munarman, menyerahkan diri kepada polisi. Pemerintah sendiri sepertinya hanya ingin bermain ‘aman’.

>>>Apakah ini solusi yang diinginkan oleh semua pihak? Apakah dengan ini kekerasan oleh siapapun, juga oleh FPI dan kelompok Islam garis keras lainnya, akan berhenti? Apakah dengan bermain ‘aman’ SBY-JK pantas dipilih lagi di Pemilihan Presiden secara langsung 2009?

Malaysia:

Kerajaan, akhirnya, mengekor langkah Indonesia menaikkan harga minyak. Malah, petrol, harganya naik sehingga lebih dari 40%. Bezanya, meskipun di Malaysia ramai pula rakyat yang bising, tapi tak ada aksi tunjuk perasaan serupa di Indonesia.

>>>Dari segi harga minyak kita serumpun, pasal tunjuk perasaan beza kepentingan (atau keberanian?)

SKB sesatkan Ahmadiyah

Maju-mundur. Itulah kesannya. Maju takut, mundur pun tak mau. Itulah pemerintah Indonesia menyikapi kasus Ahmadiyah. Desakan kuat untuk ‘menyesat’kan Ahmadiyah sangat kuat, terutama datang dari kelompok Islam garis keras, yang juga didukung oleh beberapa organisasi Islam yang sering melakukan demo, sweeping, dan pelbagai kekerasan dalam membela agama mereka. Mereka ini yang sering disebut sebagai ‘preman berjubah’. Bukan itu saja, desakan untuk segera melarang Ahmadiyah juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sebuah lembaga swadaya masyarakat Islam yang entah mengapa bertindak sebagai otoritas satu-satunya di negara ini kalau sudah menyangkut masalah Islam.

namun desakan beberapa kelompok Islam yang lebih arif pun tak kurang kuat. Mereka ini mengingatkan pemerintah untuk menjamin kebebasan beragama dan kebebasan berpendapat. Mereka pun menyodorkan fakta, bahwa Ahmadiyah sudah ada di sini sejak 1925, dan selama itu tidak pernah dilarang dan terbukti mampu hidup berdampingan dengan damai dengan pemeluk agama dan kepercayaan lainnya. Mereka ada di sini dengan tenang ketika menjelang kemerdekaan, ketika sudah merdeka, ketika Sukarno berkuasa, ketika Indonesia dipimpin Suharto, Habibie, Gus Dur dan bahkan Megawati.

Tetapi mengapa hujatan untuk menghancurkan mereka, dengan alasan bahwa Ahmadiyah sudah keluar dari ajaran Islam, baru menguat justru ketika SBY-Kalla berkuasa? Apakah pemerintah ini begitu lemah terhadap fenomena menguatnya Islam garis keras di sini? Ataukah SBY-Kalla bagian dari itu? Atau pemerintah sekarang sekedar tersandera kelompok politik Islam yang memang bertambah kuat?

Apakah pemerintah Indonesia akan mampu menjaga bandul itu tetap di tengah? Tidak ke kiri dan tidak ke kanan? Kepentingan menjelang PEMILU 2009 mungkin akan mempengaruhi apapun keputusan yang diambil SBY-Kalla.

Didik Budiarto