Band Wali Minta Malaysia untuk Minta Maaf

Album “Cari Jodoh” milik band Wali, diklaim pihak Malaysia.
Wali

VIVAnews – Apoy, gitaris band Wali juga para personilnya yang lain mengaku sangat kecewa karena album miliknya diklaim sekaligus dijiplak Malaysia.

Saat merespon hal ini, grup band Wali yang ditemui para juru warta di bilangan Kebun Jeruk, merasa pemerintah juga harus ikut andil dalam menumpas hal ini.

Apoy menegaskan,” Berita itu sangat mengejutkan untuk kami, lagi-lagi karya kita dirampas dan dibajak oleh Malaysia.”
Pihak manajemen Wali mengaku sudah mendapatkan bukti pembajakan  tersebut. Malaysia telah membajak dan mengklaim album “Cari Jodoh” milik Wali. Secepatnya, Wali dan manajemen akan mengusut kasus ini.

Namun, pihak Wali juga tidak mungkin berjalan sendiri, mereka berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk bisa memfasilitasi. Pihak Wali meminta agar Malaysia segera minta maaf.

“Dengan banyaknya klaim yang terjadi di Indonesia, tolong dong pemerintah jangan diam saja. Bela hak kami!! Negara Malaysia harus minta maaf. Mungkin setelah Wali, ada lagi karya lain yang bakal di-klaim. Yang kami harapkan, mereka minta maaf, karena itu yang paling penting. Setelah itu harus ada tindak lanjutnya,” ucap Apoy antusias.

Integrasi Malaysia-Indonesia

Berikut ini saya copy paste sebuah artikel dari Kompas.com karangan Asvi Warman Adam, sejarawan LIPI, yang saya pikir sangat menarik dan bermanfaat bagi pengetahuan rakyat kedua-dua negara yang berjiran.

Integrasi Indonesia-Malaysia

Selasa, 13 Oktober 2009 | 02:39 WIB Oleh Asvi Warman Adam Klaim seni-budaya dan teritorial selain masalah TKI menjadikan hubungan Indonesia-Malaysia memanas dari waktu ke waktu. Saat tertentu masalah ini mereda atau diimpit isu lain, tetapi muncul lagi pada saat lain. Saat kasus blok Ambalat mencuat, sekelompok pemuda di Jawa Tengah mendaftarkan diri untuk diterjunkan di sana. Mereka mengira, Ambalat adalah pulau seperti Ligitan dan Sipadan. Padahal, terjun ke Ambalat berarti terjun ke laut. Berperang dengan Malaysia diserukan seorang tokoh masyarakat di layar televisi. Jika kita bertempur dengan Malaysia, kalah atau menang tetap rugi. Kalau kalah, jelas malu karena Malaysia lebih kecil daripada kita. Kalau menang, bukan prestasi. Mengapa kita tidak berpikir sebaliknya, menggabungkan atau mengintegrasikan Malaysia dengan Indonesia; tentu saja tidak dengan invasi atau aneksasi, tetapi secara damai. Gagasan tentang Indonesia Raya yang mencakup bekas Hindia Belanda plus Semenanjung Melayu bukanlah hal baru karena ini sudah digagas seusai Perang Dunia II oleh Ibrahim Haji Yaacob yang kemudian dikenal di Indonesia dengan nama Iskandar Kamel. Ibrahim Haji Yaacob adalah seorang Melayu keturunan Bugis. Ia lahir 27 November 1911 di Kampung Tanjung Kertau, Temerloh, Pahang. Leluhurnya telah merantau ke Pahang awal abad ke-20. Saat bersekolah di Maktab Perguruan Sultan Idris tahun 1928-1931 di Tanjong Malim, Perak, guru-gurunya mengajarkan gerakan nasionalisme India, Mesir, Indonesia, dan Jepang. Ibrahim Yaacob membaca surat kabar yang datang dari Indonesia, seperti Persatuan Indonesia dan Fikiran Rakyat. Tahun 1939 Ibrahim Yaacob dengan beberapa rekannya mendirikan Kesatuan Melayu Muda (KMM). Tahun 1940, pada usia 29 tahun Ibrahim menjelma sebagai nasionalis radikal yang mengagumi Soekarno. Pada 1941, dengan bantuan uang dari Konsul Jenderal Jepang di Singapura, Ibrahim membeli koran Melayu di Singapura Warta Malaya. Ketika meletus Perang Pasifik 7 Desember 1941, Ibrahim bersama 110 anggota KMM ditangkap Inggris. Namun, saat tentara Jepang mendarat di pantai timur Semenanjung Melayu, pemuda- pemuda dari KMM menjadi pandu penunjuk jalan dan juru bahasa bagi tentara Jepang. Jepang membentuk tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Pulau Jawa, sedangkan di Sumatera dan Malaya dibentuk Giyugun. Ibrahim mendapat latihan enam bulan dan Juni 1944 dilantik sebagai Komandan Giyugun dengan pangkat letnan kolonel. Peristiwa Taiping 1945 Tahun 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) membicarakan tapal batas negara, apakah bekas Hindia Belanda, atau Hindia Belanda ditambah Malaya, Niauw Guinea, Borneo Utara, dan Timor Portugal. Ataukah bekas Hindia Belanda minus Niauw Guinea. Muhammad Yamin menganjurkan alternatif kedua, yakni Indonesia Raya. Soekarno setuju dan pada pemungutan suara 39 dari 62 anggota Badan itu memilih Indonesia Raya. Namun, dalam UUD 1945 yang disahkan 18 Agustus 1945, wilayah Indonesia tidak dinyatakan eksplisit. Pada 8 Agustus 1945, delegasi Indonesia yang terdiri dari Soekarno, Hatta, dan Radjiman berangkat ke Vietnam menemui Marsekal Terauchi. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, delegasi itu mampir di Taiping Perak. Di sana mereka bertemu Ibrahim Yaacob, yang memberitahukan kepada Soekarno dan Hatta bahwa orang-orang Melayu ingin mencapai kemerdekaan bagi Malaya dalam kerangka Indonesia Raya. Dia mengusulkan agar kemerdekaan Malaya juga diumumkan akhir Agustus. Soekarno yang duduk di samping Hatta terharu oleh semangat Ibrahim Yaacob. Dijabatnya tangan Ibrahim, lalu berujar, ”Mari kita ciptakan satu tanah air bagi mereka dari keturunan Indonesia.” Ibrahim menjawab, ”Kami orang Melayu akan setia menciptakan ibu negeri dengan menyatukan Malaya dengan Indonesia yang merdeka. Kami orang Melayu bertekad untuk menjadi orang Indonesia.” Semua itu tidak pernah menjadi kenyataan. Jepang menyerah 15 Agustus 1945. PETA dan Giyugun dibubarkan Jepang. Cita-cita Indonesia Raya kandas. Tanggal 19 Agustus dengan pesawat Jepang, Ibrahim ke Jakarta bersama istrinya, Mariatun Haji Siraj, ipar Onan Haji Siraj, dan Hassan Hanan. Karena situasi di Semenanjung Melayu tidak aman, Soekarno menyarankan agar Ibrahim dan rekannya bergabung dalam perjuangan di Pulau Jawa untuk mencapai cita-cita Indonesia Raya. Bulan November 1955, kurang lebih dua tahun sebelum Malaya merdeka, Tengku Abdul Rachman mengunjungi Jakarta atas undangan Presiden Soekarno. Secara informal Ibrahim Yaacob sempat dipertemukan dengan Tengku, tetapi pendirian mereka berlawanan. Tengku menginginkan Malaya merdeka dalam Commonwealth Inggris, sementara Ibrahim Yaacob menghendaki Malaya merdeka, bergabung di bawah Indonesia Raya. Tahun 1973 di bawah PM Tunku Abdul Razak, Ibrahim Yaacob dibolehkan berkunjung ke Malaysia. Pada masa demokrasi terpimpin, Soekarno menunjuk Ibrahim Yaacob sebagai anggota MPRS mewakili Riau. Saat Soekarno jatuh pasca-Gerakan 30 September 1965, Ibrahim melepaskan diri dari kegiatan politik dan berkiprah dalam bidang swasta. Saat meninggal di Jakarta 8 Maret 1979, ia tercatat sebagai Direktur Utama Bank Pertiwi. Ibrahim Yaacob dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Integrasi kiranya lebih positif ketimbang konfrontasi meski bentuk/tingkat dan prosesnya perlu didiskusikan lebih lanjut.

Asvi Warman Adam Sejarawan LIPI

National Central Bureau Indonesia: “1 hari 1 WNI mati di Malaysia”

Brigjen Pol. Halba Rubis Nugroho, Sekretaris National Central Bureau (NCB) Indonesia, mengatakan bahwa dalam satu hari 1 warga negara Indonesia mati di Malaysia. “Malah dalam 3 tahun terakhir, 1421 BNI tewas di Malaysia”, katanya lagi.

Yang jadi masalah, mereka ini mati karena apa? disikasa? dibunuh? atau sakit? Data ini perlu diperjelas oleh pihak NCB supaya tidak terjadi salah tafsir dan dimanfaatkan kelompok-kelompok tertentu yang ingin merusak hubungan baik Malaysia dan Indonesia.

Hubungan antara rakyat kedua-dua negara saat ini tengah tidak harmonis karena pelbagai isu. Antaranya isu pasal klaim kebudayaan, perebutan kawasan maritim Ambalat, dll. Jadi alangkah bijaknya jika data yang dipublikasikan bukan data yang multitafsir yang berpotensi menjadi isu yang membangkitkan sala paham baru. NCB tentu perlu menjelaskan datan pasal 1 hari 1 WNI mati ini. terutama penyebabnya.

Khalayak pun diharap arif dalam menyikapi temuan data ini. Kepala dingin, hati juga dingin. Damai itu indah.

Istana Kelantan: Fakhry & Manohara adalah isu peribadi

Berikut ini adalah pernyataan resmi pihak Istana Diraja Kelantan pasal isu rumahtangga Tengku Tumenggong TT dan Manohara Pinot. Dikutip secara lengkap:

Saya dititahkan untuk menarik perhatian mengenai isu perkahwinan YAM Tengku Temenggong Kelantan dan Cik Puan Manohara Odelia Pinot dan laporan polis yang dibuat oleh YAM Tengku Temenggong Kelantan pada 11 Jun 2009 dan disiarkan oleh akhbar-akhbar pada 12 Jun 2009.

Adalah ditegaskan bahawa sebarang kenyataan yang dikeluarkan oleh YAM Tengku Temenggong Kelantan dan Cik Puan Manohara Odelia Pinot adalah merupakan kenyataan peribadi dalam hubungan mereka sebagai suami isteri. Kenyataan-kenyataan tersebut tiada ada kaitan langsung dengan KDYMM Tuanku Al-Sultan Kelantan atau Pejabat Sultan.

Memandangkan penyiasatan sedang berjalan saya berharap semua pihak dapat menghormati dan memberi peluang kepada pihak yang berkuasa untuk membuat penyiasatan secara telus dan adil. Perlu ditegaskan isu berkenaan adalah merupakan isu peribadi YAM Tengku Temenggong dan Cik Puan Manohara Odelia Pinot sebagai suami isteri, oleh itu tidaklah patut dan tidak boleh dikaitkan dengan KDYMM Tuanku Al-Sultan atau Pejabat Sultan Kelantan.

Saya juga ingin memaklumkan sekali lagi bahawa KDYMM Tuanku Al-Sultan pada masa ini masih lagi dirawat di Hospital Mount Elizabeth, Singapura. Sama-samalah kita berdoa semoga KDYMM Tuanku Al-Sultan cepat sembuh dan kembali ke negeri Kelantan.

Seterusnya saya dititahkan untuk memaklumkan bahawa YMM Pemangku Raja atau Pejabat Sultan Kelantan tidak pernah melantik mana-mana orang menjadi jurucakap di mana-mana media. Sebarang kenyataan yang dikeluarkan oleh mana-mana pihak adalah bersifat peribadi dan menjadi tanggungjawab peribadi pihak-pihak tersebut. Selanjutnya diharapkan semua pihak tidak membuat sebarang kenyataan yang boleh mengeruhkan suasana atau membantut penyiasatan supaya isu berkenaan dalam diselesaikan melalui proses undang-undang dengan adil dan saksana.

Sekian, terima kasih.

Nik Mahmud bin Nik Jaffar
Pegawai Tadbir (Pentadbiran)
b.p. Dato’ Pengelola Istana Diraja Kelantan

Istana Balai Besar
Kota Bharu, Kelantan
15 Jun 2009

Lagu Kita Perlukan Pembelaan

ISU kuota penyiaran lagu-lagu artis-artis tempatan yang diketengahkan oleh Persatuan Karyawan Malaysia (Karyawan) baru-baru ini nampaknya masih belum menemu titik noktah. Karyawan melalui Ketua Biro Komposernya, M. Nasir terus berusaha keras menagih perhatian stesen-stesen radio terutamanya stesen-stesen radio swasta agar saranan mereka itu diberi perhatian yang sewajarnya.

Ini kerana, nisbah 90 peratus siaran lagu-lagu tempatan dan 10 peratus lagi untuk lagu-lagu artis luar negara yang dikemukakan oleh Karyawan itu cukup rasional memandangkan percambahan pesat yang berlaku dalam bidang penyiaran tempatan sejak kebelakangan ini.

Senario itu diakui sendiri oleh pemilik syarikat rakaman Luncai Emas Sdn. Bhd. ini ketika ditemu bual oleh wartawan Hits, SAHARUDIN MUSTHAFA dan ABD. AZIZ ITAR bersama jurugambar RASHID MAHFOF di pejabatnya di Sungai Buloh, Selangor baru-baru ini.

HITS: Pada pandangan anda adakah isu ini timbul kerana industri muzik kita tidak cukup lagu?

M. NASIR: Bagi sayalah, negara kita mempunyai terlalu banyak stesen radio termasuklah milik kerajaan dan swasta. Mereka (stesen radio) ini pula melihat operasi mereka lebih kepada sudut ekonomi dan keuntungan semata-mata. Tetapi bagi kami pula (penggiat muzik) adalah pihak yang menerima kesannya.

Jadi apa yang boleh kita lakukan?

Saya sebenarnya hairan mengapa kita memberi terlalu banyak keutamaan kepada lagu-lagu artis luar negara terutamanya dari Indonesia. Kita seakan-akan bersetuju atau merelakan keadaan itu berlaku.

Seperti yang saya katakan tadi, antara puncanya ialah kita sekarang ini ada terlampau banyak stesen radio termasuklah stesen radio swasta.

Orang ada pilihan untuk tidak membeli album sebab stesen radio siar lagu dalam kualiti yang sangat baik dan sesebuah lagu popular juga kerap disiarkan di radio.

Tetapi tidakkah kalau lagi banyak stesen radio dan mereka memainkan lagu, maka pengkaryanya akan dapat lebih banyak royalti?

Memanglah, tetapi itu pun kalau mereka siarkan lagu-lagu artis kita (ketawa). Saya takut nanti akan jadi polemik pula di mana ia akan jadi kesan yang tidak elok kepada golongan karyawan tempatan, stesen-stesen radio dan artis-artis dari luar negara.

Mungkinkah apresiasi orang kita terhadap lagu-lagu tempatan kurang?

Masalahnya di sini ialah orang (rakyat) di negara kita tidak ramai. Tetapi kita pula buka peluang itu (penyiaran lagu-lagu artis luar) dengan cara yang terlalu luas, tidak kira dalam apa juga bidang termasuklah dalam bidang muzik. Itu yang berlaku sekarang ini.

Disebabkan masalah itu kita tidak cukup produktiviti untuk berjalan seiring dengan artis-artis dari luar negara yang datang ke sini. Lama kelamaan kita akan terhimpit.

Artis luar bawa satu lagu cukuplah dan ia tentunya yang hits sahaja yang akan diketengahkan. Itu belum masuk artis-artis lain. Sedangkan artis kita mahu jadikan sebuah lagu hits pun susah.

Sebab apa? Kerana jarang keluar di radio. Itu fasal kita minta 10 peratus untuk siaran lagu artis luar. Itu pun sudah kira besar. Kita akui kelemahan kita, 10 lagu tidak semua bagus, mungkin hanya ada dua atau tiga sahaja lagu kita yang sedap. Sedang semua lagu artis luar yang datang ke sini adalah yang terbaik daripada mereka.

Adakah berlaku kekangan untuk berkarya di kalangan penggiat muzik kita?

Kita sebenarnya tidak cukup populasi. Bayangkan, Malaysia didiami oleh 27 juta penduduk. Separuh daripadanya mungkin orang Melayu.

Harus diingat juga, tidak semua orang Melayu di negara ini yang mendengar, membeli dan menyokong lagu-lagu Melayu.

Itu pun kena dibahagi kepada separuh di mana ia kalangan orang muda yang beli album. Selain itu, karyawan muzik kita juga tidak ramai.

Ia tidak sama seperti negara-negara Eropah atau Amerika Syarikat. Di Eropah misalnya, hubungan sesama mereka amat rapat macam satu keluarga. Kalau album itu diterbitkan oleh artis dari Sweden, ia boleh diterima baik di negara-negara Eropah lain kerana mereka ada pertalian daripada segi politik dan sejarah.

Apatah lagi negara seperti United Kingdom menyediakan pasaran album nombor satu di Eropah. Jadi saluran untuk mereka itu sudah ada. Tetapi persoalannya mengapa kita dengan Indonesia tidak boleh jadi macam di Eropah. Sebabnya kerana Indonesia itu masih merasakan bahawa mereka itu abang dan Malaysia itu adik mereka.

Jadi bolehkah isu 90:10 itu menyelesaikan masalah tersebut?

Sedikit sebanyak kuota itu sebagai suatu galakan. Bukannya senang untuk merealisasikan impian itu kerana walaupun Malaysia ada ramai orang Melayu tetapi mereka juga ada macam-macam jenis.

Ada orang Melayu tetapi mereka ini tidak cakap Melayu. Ada orang Melayu terutamanya golongan pertengahan yang tidak dengar lagu-lagu Melayu.

Ada juga orang Melayu yang langsung tidak tahu cakap Melayu. Dalam perkembangan ini secara khususnya stesen-stesen radio hanya membantu sesama mereka dalam industri penyiaran sahaja tetapi mereka bukannya membantu industri hiburan.

Betul ke karyawan muzik Malaysia takut untuk bersaing dengan artis-artis terutamanya dari Indonesia?

Bukan soal takut tetapi artis-artis kita tidak diberi peluang untuk bersaing secara adil. Saya mahu tanya, mengapa stesen-stesen radio di Indonesia tidak memberi peluang siaran yang banyak kepada lagu-lagu artis kita?

Sedangkan kita terlalu banyak menyiarkan lagu-lagu mereka. Ini tentunya merupakan suatu kelebihan untuk mereka. Kalau diberi ruang yang luas, lagu-lagu artis kita juga akan sama popular seperti lagu-lagu artis luar.

Atau mungkinkah permintaan terhadap lagu-lagu artis Indonesia melonjak kerana terdapat ramai rakyat mereka di sini?

Demand atau permintaan lagu-lagu apa pun tetap ada dan ia boleh dijual sama ada sikit atau banyak. Tetapi dalam hal ini puncanya ialah radio. Kalau macam inilah keadaannya, buka sahajalah kuota itu 100 peratus kepada artis-artis luar, tiada sekatan atau kuota lagi.

Pada masa itu biarlah apa yang hendak jadi, mungkin artis atau lagu-lagu kita akan jadi golongan minoriti. Dulu masa zaman tahun 1980-an dan 1990-an memang muncul ramai artis dari luar tetapi ia terkawal.

Apatah lagi ketika itu artis-artis kita banyak buat lagu macam rock yang tangkap leleh. Ia jadi jenama popular pada masa itu. Tetapi masalah yang berlaku sekarang ini kita lambat aktif buat lagu hingga tempat itu diambil alih oleh orang luar. Contohnya, dalam tempoh itu hingga kita tidak banyak artis kita yang tampil dengan trend muzik terkini atau album baru. Cuma baru kini ada artis seperti kumpulan Hujan yang muncul dalam persada muzik kita.

Orang kita mahukan lagu-lagu Melayu, sedangkan dulu kita ada ramai pemuzik seperti OAG dan Butterfingers tetapi mereka buat album Inggeris. Sekarang ini barulah nampak perubahan sikit.

Pada masa sama adakah kualiti lagu kita kurang?

Itu juga perlu diberi perhatian, cuma kita kekurangan bakat-bakat yang boleh diketengahkan.

Kita memang ada program TV realiti tetapi ia sekarang ini seakan-akan sudah tidak relevan lagi.

Ada program TV realiti yang masuk musim keenam tapi sebenarnya ia sudah tidak perlu lagi. Kita macam sudah tidak ada talent (bakat) yang boleh dicungkil, asyik-asyik orang yang sama juga yang muncul.

Bagaimana mahu melahirkan lebih ramai karyawan yang berkualiti?

Antaranya kita kenalah iktiraf sumbangan dan pencapaian mereka. Orang masuk bidang seni ini kerana mahu ‘kerja’ tetapi kalau tidak ada pengiktirafan siapa yang akan percaya? Kita kena yakinkan bidang seni juga suatu kerjaya yang boleh cari makan.

Secara jujurnya, apa kurangnya lagu-lagu kita berbanding lagu-lagu artis luar?

Sama sahaja kerana semua itu bergantung kepada ‘jangka hayat’ karier seseorang penyanyi itu.

Saya jangkakan ia sekitar lima tahun sahaja. Kalau penyanyi itu terus diterima selepas itu, ia datangnya daripada sokongan para peminat setia ketika zaman popularnya itu.

Biasanya seseorang penyanyi itu akan bertahan hingga album keempat sahaja. selepas itu nasiblah. Ini adalah psikologi dalam industri hiburan. Sampai ke suatu tahap, orang (peminat) akan rasa ‘penat’. Komposer mungkin boleh bertahan kerana mereka ini golongan yang berada di belakang tabir, orang tidak nampak. Jadi lambat sikitlah orang hendak rasa bosan.

Bagaimana senario industri muzik kalau kita jemput kumpulan-kumpulan pemuzik indie menyertai arena muzik arus perdana?

Terpulanglah kepada mereka. Apa yang penting mereka kena jujur dengan karya-karya yang mereka ketengahkan. Kita sentiasa kena berubah. Contohnya, macam Madonna yang walaupun sudah berusia tetapi dia sentiasa berubah-ubah imej dan konsep lagu-lagunya. Tetapi masalahnya tidak ramai artis yang sanggup atau berani berubah. Artis kena sentiasa berubah, kalau tidak siapa yang mahu beli produk mereka?

72 Ribu Anak TKI Tidak Sekolah

Perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan tenaga kerja Indonesia (TKI) patut dipertanyakan. Hal itu terkait dengan fakta yang dibeberkan Forum Guru Tidak Tetap Indonesia di Sabah (FGTTS), Malaysia, di depan Komnas Perlindungan Anak (KPA) kemarin (5/9). Sedikitnya tercatat 72 ribu anak TKI yang berusia kurang dari 13 tahun belum mengenyam pendidikan.

Menurut anggota FGTTS Sahrizal, anak-anak TKI di Sabah, Malaysia, tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Selain sarana dan prasarana pendidikan yang terbatas, anak-anak tersebut dipaksa keluarganya untuk bekerja. Hal itu membuat konsentrasi belajar anak-anak terpecah. ”Mereka juga hampir pasti mendapatkan kekerasan dari orang tuanya. Dampaknya, kondisi fisik mereka makin tak terurus,” ungkapnya. Bukan hanya kekerasan fisik, lanjut Sahrizal, mereka juga mengalami kekerasan seksual dari para orang tua. ”Padahal, layanan kesehatan bagi warga yang menjadi TKI di sana sangat minim,” katanya.

Tragisnya, sebagian besar di antara mereka minim pengetahuan tentang negerinya, Indonesia. Bahkan, mereka menyebut tanah air dengan hanya nama kampung, bukan Indonesia. ”Banyak di antara mereka yang tidak mengenal Indonesia. Pulau Kalimantan saja mereka tidak tahu,” tegasnya. Sahrizal berharap pemerintah memperbaiki program pendidikan bagi anak-anak TKI. Serta, menjamin mereka agar mendapatkan ijazah bagi pendidikan ke depan kelak. ”Pemerintah juga harus memberikan beasiswa bagi anak-anak tersebut karena mereka berasal dari anak kurang mampu,” ujarnya.

Menurut Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait, pemerintah bisa dinilai melanggar Konvensi PBB tentang hak anak yang mewajibkan setiap negara memberikan hak seluas-luasnya kepada setiap anak untuk mengenyam pendidikan. Dia menyatakan, pemerintah telah meratifikasi konvensi tersebut pada 1990, sedangkan Malaysia pada 1992. Dengan begitu, kedua negara terikat secara politis dan yuridis untuk memberikan pendidikan seluas-luasnya bagi setiap anak. ”Sementara, seperti diketahui, pendidikan yang diterima anak-anak TKI melalui pengiriman guru tersebut tidak layak dan menyedihkan. Jadi, kedua negara melanggar konvensi tersebut,” ungkapnya di Kantor Komnas PA, Jalan T.B. Simatupang, Jakarta, kemarin.

Menurut Arist, negara bagian Sabah memang memiliki peraturan imigrasi tersendiri yang tidak memperbolehkan anak TKI bersekolah di sekolah umum. Namun, hal itu sebenarnya bisa diselesaikan dengan adanya perjanjian kerja sama antara kedua negara. ”Tak bisa dimungkiri, Malaysia masih diskriminatif. Atau setidaknya kedua negara sebenarnya bisa melakukan perjanjian kerja sama karena mengacu pada konvensi tersebut. Itu pun kalau Depdiknas memiliki iktikad baik,” katanya.

Apalagi, jelas dia, saat ini sebenarnya sudah dibangun sekolah Indonesia di Malaysia khusus bagi anak-anak diplomat atau pejabat KBRI. ”Kalau itu saja bisa, mengapa sekolah untuk anak-anak TKI tidak bisa dibangun?” ujarnya.

Arist menuturkan, pihaknya akan bertolak ke Malaysia untuk melihat langsung kondisi nyata kehidupan anak-anak TKI yang tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Setelah itu, Komnas PA akan menemui Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo untuk melaporkan temuan tersebut.
Komnas PA, kata dia, juga akan bertandang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk menemui Duta Besar Indonesia untuk Malaysia Da’i Bachtiar guna mendesak memfasilitasi anak-anak TKI tersebut agar mendapatkan akta kelahiran dan paspor. ”Identitas, nama, dan kewarganegaraan setiap anak TKI itu penting sebagai seorang warga negara. Bukan hanya untuk mengakses pendidikan, tapi juga untuk keperluan lain,” tegasnya.

Sementara itu, ketika ditemui di kantor Menko Kesra, Mendiknas justru menilai pengaduan tersebut salah sasaran. Menurut dia, kalau FGTTS hendak melapor ke Depdiknas, tentu akan ada solusi. ”Kok lapornya tidak ke saya langsung, jadi saya kan bisa menindaklanjuti, ” ungkapnya. Bambang kemudian balik menuduh bahwa ada motif di balik upaya FGTTS untuk membenturkan Depdiknas dengan isu miring tersebut. Menurut dia, hal itu dilakukan karena permohonan mereka untuk menjadi PNS masih belum disetujui Depdiknas. ”Dulu sebelum berangkat kan sudah janji tak akan menuntut diangkat, tapi sekarang kok malah minta macam-macam, ” katanya.

Malaysia akan sekat lagu-lagu Indonesia

KUALA LUMPUR, RABU–Para pendengar radio di Malaysia bakal kesulitan untuk mendengar lagu-lagu Indonesia kalau saja pemerintah setempat mengabulkan permintaan pembatasan penyiaran lagu Indonesia.

Adalah Persatuan karyawan industri musik Malaysia (Karyawan) yang mengusulkan pembatasan penyiaran lagu-lagu Indonesia di radio. Rencananya usulan tersebut akan disampaikan kepada Menteri Tenaga, Air, dan Komunikasi Malaysia Shaziman Abu Mansor.

“Kami akan menghadap menteri Shaziman besok untuk menyampaikan tuntutan kuota 90 persen siaran lagu-lagu Malaysia, sisanya baru lagu Indonesia 10 persen,” kata ketua Karyawan Ahmad Abdullah kepada Malaysiakini. com, Rabu.

Menurut Karyawan, jika tuntutan kuota itu tidak diterima, perbandingan 80:20 masih bisa diterima.

Tuntutan itu didukung sekitar 700 karyawan yang bekerja di industri musik. Dalam pertemuan itu, Presiden Karyawan Freddie Fernandez, komposer dan penyanyi terkenal M Nasir dan Nan Saturnie akan hadir dalam pertemuan dengan menteri.

Para karyawan industri rekaman Malaysia sudah lama memprotes dan menuntut agar radio di Malaysia tidak terlalu banyak menyiarkan lagu Indonesia karena akan menambah penjualan album penyanyi Indonesia di Malaysia, dan menurunkan pangsa pasar album penyanyi Malaysia.

Para penyiar dan pengelola stasiun radio Malaysia beralasan seringnya memutar lagu Indonesia disebabkan banyaknya permintaan dari pendengar.

Bahkan, tiga stasiun radio swasta yang saling berlomba menduduki posisi teratas di Malaysia, Era FM, Hot FM, dan Suria FM memiliki program pemutaran lagu Indonesia setiap hari Minggu, antara jam 10-12 siang.

Penyanyi rock terkenal Malaysia Amy Search mengatakan kepada pers, jika jam 10 malam ke atas Malaysia sudah seperti Jakarta karena semua radio menyiarkan lagu-lagu Indonesia hingga dinihari.

Karena banyak penggemarnya, banyak perusahaan telekomunikasi seperti Maxis, DIGI dan Celcom serta Telekom Malaysia (TM) yang mensponsori konser musik group band Indonesia di Malaysia. (ANT)