Republik Sontoloyo

Tajuk ini sebenarnya bukan original dari saya. Ini adalah salah satu comment yang datang ke blog ini. Ini adalah sebuah ide brilian. Sontoloyo memang sedang menjadi sebuah kata umpatan yang sangat terkenal. Ingin bukti? cobalah hitung ada berapa karater ’sontoloyo’ dimuat di suratkabar, majalah, blog, website, radio dan televisi dalam beberapa hari ini. Niscaya akan kita temui ratusan ribu atau jutaan kata sontoloyo. Tidak percaya? coba hitung sendiri.

Sontoloyo ini, yang berasal dari bahasa Jawa dan menurut kamus bermakna bodoh dan tidak beguna, meluncur dari mulut Batak ketua Badan Intelijen Negara (BIN), untuk mengumpat menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang berasal dari partai pendukung SBY-JK (karena itu ia diangkat menjadi menteri oleh SBY), tapi diam-diam mendukung hak angket pasal kenaikan harga minyak (BBM) di DPR. Karenanya Syamsir Siregar menjulukinya sebagai menteri sontoloyo. Umpatan sontoloyo pun segera disambut pelbagai komentar dan menuai kontroversi. Jadilah sontoloyo sebuah kata yang populer meskipun itu bukan kata-kata baru dalam bahasa kita.

Republik Sontoloyo? Kenapa tidak? Beberapa waktu lalu dalam blog ini saya menulis “Republik Calo” karena begitu banyaknya calo di hampir semua sektor kehidupan di negara ini. Effendi Gazali sebelum ini juga mempopulerkan program tv bertajuk “Republik Mimpi”. Mimpi, Calo dan Sontoloyo! Kemudian apalagi? Tentu masih banyak lagi sebutan yang pantas dilabelkan kepada republik ini. Diantaranya ya “Republik Koruptor” yang terkenal dan sudah terbukti itu.

Tapi mimpi, calo dan koruputor, dan entah apalagi, semuanya memang boleh disatukan menjadi “Republik Sontoloyo”. Semua kata yang bermakna buruk itu, ibarat semua jenis bumbu nasi goreng yang disatupadukan dalam wajan penggorengan memang akan beraroma “Republik Sontoloyo”.

Cobalah kita tarik mundur ingatan kita, bagaimana sontoloyonya polisi yang tega menghajar mahasiswa yang melakukan tunjuk perasaan menentang kenaikan harga minyak, malah salah satunya tega dengan sengaja menabrak mahasiswa menggunakan mobil patroli yang dibeli dari pajak yang dibayar rakyat. Betapa sontoloyonya mahasiswa dan/atau demonstran yang bukan mahasiswa yang melakukan tindakan anarkis dengan membakar mobil dan membuat kemacetan sehingga ada pasien mati di dalam ambulans yang terjebak kemacetan. Dan betapa lebih sontolonya pemerintah yang menaikkan harga minyak dan tak kunjung berdaya menyejahterakan kehidupan bangsa.

Sontoloyo juga pantas disandangkan kepada lembaga kejaksaan yang oknum-oknumnya silih berganti terlibat dalam tindak korupsi dan memperdagangkan perkara. Sontoloyo benar para pimpinan kejaksaan agung yang membolehkan 2 jaksa yang pernah dihukum karena kasus suap bekerja lagi sebagai jaksa. Oknum? tidak ada oknum kalau sudah menyangkut lembaga. Kejahatan hanya bisa dilakukan oleh oknum sebuah lembaga yang dipimpin oleh seorang sontoloyo.

Para anggota DPR yang terhormat pun tak kurang sontoloyonya. Ada yang terlibat skandal seks, malah ada yang dituduh memperkosa stafnya di ruang kerjanya yang terhormat di DPR, ada pula yang tertangkap menerima suap. DPR memang sudah lama ditengarai sebagai salah satu institusi yang paling korup selain kepolisian.

Daftar kesontoloyoan negeri ini akan bertambah panjang seiring lamanya kita merenung. Apakah akan kita biarkan Indonesia menjadi Republik Sontoloyo?

Salam sontoloyo.

Didik Budiarto

http://didikbudiarto.com

http://didikbudiarto.wordpress.com

https://malindokini.wordpress.com

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s