Thomas Cup 2008: PBSI harus cari bibit baru

Tempik sorak lebih dari 8000 penonton pendukung tuan rumah rupanya tak ada pengaruh buat Taufik Hidayat dan kawan-kawan. Mereka telah menyia-nyiakan kesempatan emas memenangi Piala Thomas selagi menjadi tuan rumah. Kemarin, jago-jago tepuk bulu angsa Indonesia itu kalah memalukan dari Korea dengan skor yang telak. 3-0

Menyedihkan, Indonesia kalah dari kekuatan bulutangkis yang dulu justru belajar kepada Indonesia. Apa yang salah dengan bulutangkis Indonesia?

Siang harinya, sejam sebelum kekalahan skuad Piala Thomas Indonesia, Malaysia juga dikalahkan oleh China. Bedanya mereka keluar Istora dengan kepala tegak. Malah para pemain Lee Chong Wei yang dengan gagah menaklukkan jago China, Lindan, kemudian Wong Choon Hann, Fairuzizan, Pelatih Kepala Yap Kim Hock dan Misbun Sidek, semuanya ketika saya wawancarai satu persatu, mereka tidak menyesali kekalahan karena mereka sudah melakukan perlawanan yang sengit. Skornya pun 3-2. Lawannya pun China, juara bertahan yang memang diakui oleh siapapun yang mengamati peta kekuatan bulutangkis dunia.

Di Media Center, saya sempat mengatakan inilah sebenarnya final yang sebenar-benarnya. Tak ada yang mampu membendung China, kecuali Malaysia. Sayang, perhitungan Malaysia bahwa mereka akan mampu mengamankan satu poin melalui ganda terkuat mereka, Koo Kien Kiet – Tan Boon Heong, meleset. Kalau tidak, bukan mustahil Malaysia akan melenggang ke final.

Kembali ke masalah bulutangkis Indonesia. Materi pemain yang itu-itu saja, nyaris tidak ada perbedaan dengan team Thomas Cup 2004 di Jakarta, dimana Indonesia juga kalah di semi final. Mungkin kita semua harus sepakat dulu, bahwa jago-jago Indonesia sudah perlu diremajakan. PBSI harus segera menemukan pemain-pemain baru. Yang muda harus segera disiapkan untuk menggantikan Taufik, Sony, dll. Malah sebenarnya, kalau pikiran itu baru muncul sekarang sudah terlambat. Negara lain sudah mengandalkan pemain-pemain muda yang mempunyai potensi luar biasa.

Indonesia masih sangat bergantung pada pemain-pemain yang sudah melewati masa puncaknya. taufik, Sonny, Candra Wijaya, dll. Jadi pertanyaan besarnya adalah bagaimana program pembinaan di PBSI? Program pencarian bakat yang tidak jalan.

Hampir tidak masuk akal dari 230 juta penduduk Indonesia kita bisa kehabisan stok. Tidak bisa dipercaya. Menemukan satu saja itu kebetulan anaknya Icuk Sugiarto, yang memang sudah tidak perlu dicari-cari. Jadi apa yang salah dengan PBSI?

Kita memang bukan lagi kekuatan utama bulutangkis dunia.

Didik Budiarto

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s