Malaysia 3 Kali Langgar Wilayah Indonesia Selama Maret 2008

(ANTARA News) – Dalam empat bulan terakhir, Malaysia tercatat sudah tiga kali melanggar wilayah udara Indonesia tepatnya di Kalimantan Barat yang berbatasan dengan Serawak.

Tiga kali pelanggaran wilayah itu, menurut Panglima Kodam VI/Tanjungpura, Mayjend TNI Tono Suratman, dilakukan Malaysia dalam tiga hari berturut-turut di bulan Maret yang lalu.

Dalam Forum Komunikasi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) di Rektorat Universitas Tanjungpura di Pontianak, Sabtu, Tono Suratman merinci pelanggaran pertama pertama terjadi 6 Maret 2008 sekitar pukul 15.00 WIB.

Anggota Pos Pengamanan Perbatasan (Pamtas) Gun Tembawang Batalyon Infanteri (Yonif) 641/Bru di Desa Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau melihat sebuah helikopter jenis Bolco warna putih dan biru dengan senapan mesin (RPD) yang diduga kuat milik Polis Diraja Malaysia (PDRM) melintasi daerah itu.

Helikopter berpenumpang empat orang itu melintas dari arah barat dengan jarak terbang hanya sekitar 150 meter dari Pos Pamtas Gun Tembawang.

Kemudian, pelanggaran kedua terjadi 7 Maret sekitar pukul 15.00 WIB, ketika helikopter jenis yang sama melintas dari selatan menuju utara tepat di atas Pos Pamtas Gun Tembawang dan mendarat di Kampung Gun Sapit, Padawan, Sarawak.

Pelanggaran ketiga terjadi 8 Maret 2008 sekitar pukul 10.55 WIB. Diduga helikopter yang sama melintasi kembali daerah itu dari barat daya menuju utara, lalu memutar dua kali.

Panjang perbatasan darat antara Indonesia – Malaysia, kata dia, mencapai 2.004 kilometer, berada di Kalimantan Barat 857 kilometer dan Kalimantan Timur 1.147 kilometer.

Terdapat 5.784 patok batas di sepanjang perbatasan darat Kalbar – Malaysia. Namun, yang sudah dipatroli baru sebanyak 3.087 patok. “Sisanya belum,” kata Tono Suratman.

Sebanyak 349 patok dinyatakan hilang, 53 rusak, empat patok patah dan dua patok tertimbun. Penyebabnya terutama faktor manusia seperti pencurian kayu menggunakan alat berat dan pengaruh alam akibat tanah longsor.

Sementara masalah garis batas di wilayah Kalbar yang belum terselesaikan dengan pihak Malaysia yakni di Tanjung Datu, Kabupaten Sambas, tidak ditemukan posisi pancaran air. Meski Malaysia menganggap sudah selesai, hasil pengukuran bersama dianggap tidak sesuai.

Di Titik D 400, hasil survei bersama Indonesia – Malaysia tidak menemukan pancaran air karena terpotong sungai. Wilayah Gunung Raya, garis batas Gunung Raya I dan II pada hasil survei bersama tidak dapat disepakati kedua belah pihak.

Di Jagoi/Sungai Buan, kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan konvensi Belanda-Inggris tahun 1918. Di daerah Batu Aum, penerapan arah dan jarak tidak dapat diterima kedua pihak.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s